Connect with us

Kompetisi

Kompetisi Gitar Online ‘Discover B.C. Rich Competition 2018’

Diterbitkan

pada

Kompetisi Gitar Online Discover B.C. Rich Competition 2018
SoundCloud

Faktual Musik – Dalam rangka memperkenalkan produk B.C Rich secara lebih luas, Delta Musik menggelar sebuah kompetisi gitar secara online bertajuk ‘Discover B.C. Rich Competition 2018’.

Pendaftaran kompetisi gitar ini mulai dibuka sejak 15 Maret 2018 sampai 15 Juni 2018 mendatang. Adapaun juri yang bertindak terdiri dari Edo Widiz (Voodoo – Guitaritual), Mario Saskara (Delta Musik – Kaizu Band), serta Baken Nainggolan (Hellcrust).

Syarat dan ketentuan kompetisi gitar online:

  1. Usia bebas & harus berdomisili di Indonesia
  2. Wajah harus terlihat jelas di video
  3. Merk gitar bebas
  4. Peserta mengisi lead & riff gitar dari backing track yang telah di sediakan oleh panitia penyelenggara (tambahan aransemen di luar part gitar untuk memperkaya aransemen di perbolehkan)
  5. Backing track dapat di download di soundcloud.com/deltamusikid dan channel youtube DISCOVER BC RICH COMPETITION 2018
  6. Peserta merekam hasil demo dalam bentuk video dan di kirim via Email (Google Drive / We Transfer) dengan pengaturan (Access: Anyone Can Edit) ke [email protected] dengan mencantumkan data diri (Nama, Alamat, Nomor Telepon)
  7. Peserta wajib memfollow instagram @deltamusik & @valeton_id lalu repost video & link video kalian yang telah di upload via instagram @deltamusik dengan hashtag #discoverbcrichcompetition2018
  8. Keputusan juri bersifat mutlak & tidak dapat diganggu gugat


Hadiah Kompetisi Gitar terdiri dari:

  • Juara 1 mendapatkan BC Rich Guitar + Valeton Dapper Dark Mini
  • Juara 2 mendapatkan BC Rich Guitar & Valeton Dapper Mini
  • Juara 3 mendapatkan BC Rich Guitar & Valeton Coral Looper

Pengumuman pemenang akan diumumkan pada 20 Juni 2018 mendatang. Di luar tiga pemenang, Delta Musik akan memilih peserta atau gitaris untuk dapat tampil di acara Guitaritual Jakarta.


Overview B.C Rich

B.C. Rich, salah satu brand gitar terkemuka asal Amerika yang banyak mempoduksi gitar-gitar terbaik, baik akustik dan elektrik, serta bass dan dipakai oleh musisi dunia.

Kiprahnya di dunia instrumental musik dimulai semenjak 1969 Bernando Chavez Rico mendirikan perusahaan tersebut. Beberapa model seri ternama seperti Warlock, Seagull, Eagle, Mockingbird, Ironbird, dan lainnya banyak dipakai para musisi dunia kenamaan. Sebut saja Kerry King, Brad Whitford, Joe Perry, bahkan Slash juga sempat menyandang gitar tersebut.

Di indonesia sendiri, produk ini diboyong oleh Delta Musik sebagai distributor produknya dan juga digunakan oleh beberapa musisi lokal ternama di Tanah Air.

Continue Reading
Beri Komentar

Berita

Melihat Kondisi Rumah Hafidzha Liga Dangdut, Penonton Menagis Semua

Diterbitkan

pada

By

FaktualMusik – Hafidzha (nama SMS Hafiza) duta provinsi Sulawesi Selatan dalam di Liga Dangdut Indonesia 2019 Top 80 Group 15 yang disiarkan live dan eksklusif oleh Indosiar, Rabu (30/1) malam.

Berjuang pantang menyerah untuk bisa menembus belantika musik dangdut ditunjukkan begitu musik mulai mengalun, dengan mikrofon di tangan, hilang sudah kesan gugup itu, diganti dengan sosoknya yang berdiri mantap disertai suara yang membahana namun memikat, dengan membawakan lagu “Kupu Kupu” yang dinilai sempurna Hafidzha mendapatkan lima lampu dari panel provinsi.

Dengan cengkok dan ciri khas yang berbeda dari peserta lainnya Hafidzha mendapatkan lampu biru dari para juri Liga Dangdut Indonesia (LIDA).
“Yang pertama sebagai penyanyi poin yang paling utama adalah bagaimana seorang penyanyi itu dengan rasa dan jiwa yang utuh, Hafidzha itu cengkoknya cukup manis tidak berlebihan dan tidak dipaksa dan tidak juga dibuat-buat, kamu itu nyanyinya enak dan rasanya pas banget, penjiwaannya sudah oke, terus dinamikanya dapat senyumnya juga manis sekali gerak tubuhnya tidak berlebihan, santai dan tenang itu yang harus dilakukan oleh seorang penyanyi, paket komplit,” kata Inul Daratista dewan juri Liga Dangdut Indonesia.

“Hafidzha ini punya ciri khas sendiri tidak meniru yang lain, punya gaya sendiri, punya karakter sendiri maka dengan khas kamu itu akan dilihat dan dikenang oleh fans kamu yang menonton penampilan kamu,” Sambung Inul.

Senada dengan Inul, dewan juri Nassar menilai bahwa penampilan Hafidzha sangat bagus dari cengkoknya dangdut sudah tidak perlu diajari lagi, namun satu saja yang diperhatikan bahwa konsisten.

“Yang kamu pegang harus konsisten, karena malam ini bagus, tapi jangan lupa masih ada lawan-lawan yang lain, karena ini bersama-sama berlomba membawa provinsi,” ujar Nassar.

Dibalik kesuksesan penampilan Hafidzha yang mendapatkan lampu biru dari para juri, ada kesedihan yang ditampilan profil Hafidzha yaitu kondisi rumah kediaman Hafidzha di Luwu Utara Kabupaten Masamba, Sulawesi Selatan.

“Ini rumah kamu, bagian dapur, maaf atapnya dari daun kelapa,” tanya Irfan.

“Iya, itu sudah 6 tahun tidak diganti atapnya,” kata Hafidzha sambil menangis.

Jadi, lanjut Irfan memastikan jika menghadapi perubahan cuaca seperti panas, dan hujan itu bagimana?

“Iya hujan kehujanan, panas kepanasan, semua keluarga,” jawab Hafidzha.

“Jumlah yang tidak di rumah saya jumlahnya 6 orang,” sambung Hafidzha.

Saat menceritakan kondisi rumah yang tidak layak huni, satu studio menangis dan banyak yang bersimpati. Melihat kondisi seperti itu, Caren Delano terketuk hatinya untuk mebantu perekonomian keluarga Hafidzha.

“Saya itu punya hati untuk memberikan sesuatu untuk kamu, atas rasa syukur saya bisa bergabung dengan keluarga LIDA ini seluruh upah saya hari ini duduk di meja juri saya berikan untuk Hafidzha dan untuk keluarga, mudah-mudahan menjadi berkah,” jelas Caren, membuat para penonton terharu atas kebaikannya. Sambil bercucuran air mata Hafidzha mengucapkan terima kasih kepada Caren sudah memberikan bantuannya.

“Terima kasih kaka, kebagian kaka tidak bisa membalas dengan materi tapi insya Alla, Allah akan membalasnya lebih lagi,” ujarnya.

Selain dari Caren Delano, juri Nassar membacakan pesan WhatsApp dari Ani Nurdin Halid, ingin memberikan bantuan berbentuk uang sekitar Rp 10 juta.

“Dari ibu Ani Nurdin Halid menyumbang Rp 10 juta untuk Hafidzha,” kata Nassar juri Liga Dangdut.

Continue Reading

Kompetisi

Bertemakan Karya Gak Tau Batas Widi MALIQ & D’Essentials Tempa Duo Finalis Creative Academy

Diterbitkan

pada

By

FaktualMusik – Bertemakan Karya Gak Tau Batas, GAC sukses menjaring 18 finalis untuk mengasah kemampuan melalui sesi diskusi dan pelatihan secara intens bersama delapan tokoh ternama di bidang musik, visual art, fotografi, dan kuliner. Ajang Go Ahead Challenge (GAC) telah menjadi kompetisi tahunan bagi para insan kreatif untuk dapat mengembangkan diri dan berkarya di panggung yang lebih besar.

Selama sepekan ini para finalis dan kurator terlibat dalam Creative Academy untuk mempertajam ide unik dan berani yang merupakan peleburan dari dua passion.

“Creative Academy menjadi sebuah sarana yang sangat bermanfaat tidak hanya untuk finalis tapi juga bagi kami para kurator untuk bertukar ilmu. Mengingat para finalis datang dari berbagai daerah dengan skill masing-masing, maka ini merupakan kesempatan semua orang untuk belajar dan memperluas network,” jelas Anton Ismael, salah satu kurator di bidang fotografi.

“Dengan konsep GAC yang lebih matang dari segi pengembangan kreativitas, saya harap para finalis yang terlibat dapat lebih berani untuk mendobrak batas mereka dan menjawab keraguan maupun tantangan untuk menjadi apa pun yang mereka mau,” lanjutnya.

Untuk membantu para finalis dalam mewujudkan ide menjadi sebuah karya tanpa batas, selain Anton Ismael, kurator lain yang turut terlibat di antaranya; Widi Puradireja, Jason Ranti, Bill Satya, Naufal Abshar, Kendra Ahimsa, William Gozali, dan Martin Natadipraja. Selama sesi mentoring, setiap finalis didampingi oleh dua orang kurator dari bidang berbeda untuk mengonsepkan ide mereka agar dapat dipresentasikan melalui karya.

Menanggapi berbagai ide menarik yang masuk ke dalam proses seleksi di Creative Academy, Widi Puradireja mengaku sangat antusias untuk dapat melihat karya akhirnya. Beberapa ide di bawah arahan Widi terbilang cukup unik. Mulai dari live act painting diiringi lagu kreasi sendiri, membuat video musik dari hanya berbekal jepretan ponsel, instalasi visual art yang diisi dengan lagu kreasi sendiri, hingga penampilan teatrikal dilengkapi ilustrasi dan instrumen musik dari alam.

“Sejauh ini, para finalis berhasil meyakinkan saya bahwa mereka mampu mengikuti setiap arahan dan berani menantang diri mereka lebih jauh lagi.Di setiap sesi konsultasi, saya serta teman-teman kurator lain berusaha untuk mengajak mereka mengeksplorasi potensi yang mereka miliki dan mempertajam skill maupun ketertarikan mereka pada bidang apa pun.”

“Alhasil ide-ide para finalis dapat berkembang dan semakin mampu mengurai cerita serta inspirasi untuk dapat dinikmati oleh publik melalui karya seni kreatif,” ungkap Widi yang juga dikenal sebagai drummer grup musik MALIQ & D’Essentials.

Konsep penampilan teatrikal milik salah satu finalis arahan Widi, yaitu duo Ramadani ‘Erce’ Sumanto dan Aditya Darmawan, menjadi lebih berkembang dan menarik berkat pendampingan dari Widi dan Naufal sebagai mentor sekaligus kurator. Mereka yang tadinya hanya sebatas menampilkan musik dengan permainan alat unik terbuat dari bambu, kini dipersiapkan untuk membuat latar visual di atas panggung yang dapat menampilkan identitas serta cerita di balik lagu atau penampilan mereka.

“Kami sangat beruntung dapat menjadi bagian dari perjalanan GAC, karena banyak ilmu serta wawasan yang kami peroleh, bahkan dapat bertukar pikiran dengan teman-teman baru serta para ahli di bidang yang ingin kami geluti.”

“Melalui sesi Creative Academy bersama para kurator, kami semakin sadar bahwa ada banyak hal yang perlu dipikirkan dan dipertajam dalam menciptakan sebuah penampilan atau karya seni. Namun hal tersebut menjadi sebuah tantangan, dan para kurator berhasil memberikan motivasi bagi kami untuk dapat mengubah ‘tapi’ menjadi sebuah bukti melalui karya,” ujar Erce asal Balikpapan.

Selama para finalis mengikuti Creative Academy, selain sesi one on one mentoring, mereka juga dapat langsung menciptakan karya dan bebas berkonsultasi dengan para kurator. Melihat bahwa banyak finalis yang berasal dari luar Jakarta, para kurator khususnya dari bidang visual art dan kuliner, bahkan turut membantu mengumpulkan dan mencari material/bahan yang dibutuhkan dalam proses mereka berkarya.

Hal tersebut turut menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi para finalis karena mereka dapat memiliki wawasan baru dan menemukan bahan-bahan yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya.

“Jujur saya sangat tertarik untuk mengikuti perkembangan mereka dalam berproses menciptakan sebuah karya tanpa batas. Para finalis yang telah berkumpul di sini saya lihat memiliki talenta yang cukup menjanjikan dan yang terpenting keberanian untuk berekspresi sebebas mungkin.

Kami para kurator sangat menunggu presentasi karya mereka di akhir pekan ini untuk bersaing menjadi pemenang GAC pada malam Artwarding,” ucap Widi. Semua karya dari 18 finalis Go Ahead Challenge 2018 akan saling bersanding dan bertanding di GAC 2018 Artwarding Night di Queenshead Kemang pada Sabtu, 26 Januari 2018, yang diselenggarakan oleh Level 7.

Selain ajang apresiasi tersebut, para pemenang GAC 2018 nantinya juga akan menjalani berbagai program pengembangan diri dengan para tokoh ternama di bidangnya.

Continue Reading

Berita

Memilih Sound Card Audio Interface

Diterbitkan

pada

By

whatsapp web

FaktulaMusik – Musisi bisa dibilang salah satu pekerjaan yang paling terpengaruh oleh perkembangan teknologi, karena perkembangan teknologi telah memudahkan banyak musisi untuk berbagai hal,salah satunya adalah berkarya untuk menghasilkan sebuah kumpulan nada yang harmonis yang di rangkai degan berbagai instrumen hingga terciptalah lagu. Saat  ini recording dirumah bukanlah sebuah hal yang aneh, karena dengan maraknya berbagai software DAW (DigitalAudio Workshop) interface yang beredar di pasaran  hampir semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk membuat sebuah karya musik.

Dengan semakin banyaknya merk maupun brand dari alat-alat untuk recording, maka semakin kompetitif pula harga dari equipment  tersebut. Dan kabar baiknya adalah, membuat sebuah karya atau recording sekarang ini sudah dapat dilakukan dirumah dengan budget yang sangat ekonomis.

Dengan beberapa  equirement seperti laptop/ PC dan sebuah audio interface, kita sudah bisa memulai melakukan apa yang disebut sebagai home recording. Namun yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah,laptop atau audio interface seperti apa yang dibutuhkan untuk bisa melakukan home recording, beberapa poin yang dapat kalian jadikan pertimbangan  saat ingin membeli sebuah audio interface.

Ketika muncul pertanyaan,”Audio interface seperti apa yang harus dibeli?” ada baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu apa yang kita perlukan dari benda tersebut. Apakah memerlukannya untuk merekam secara live,atau hanya sekadar membuat demo, atau mungkin   kita butuh untuk merekam sesuatu secara single track atau multi track.Dengan mengetahui apa yang kita butuhkan, kita akan mempunyai gambaran lebih jelas tentang audio interface yang kita butuhkan.

Mungkin langkah pertama yang paling baik adalah kita harus list kebutuhan yang kita perlukan, diantaranya koneksi yang dimiliki oleh PC/laptop kita dengan audio interface yang akan kita beli,apakah itu via USB, FireWire,thunderbolt,PCI,dsb.

Jika kita sudah mengetahui kebutuhan, secara otomatis kita akan dapat menjawab poin yang satu ini. Sebagai contoh, jika kita ingin merekam fullband secara live,maka yang kita perlukan adalah audio interface yang mempunyai input kurang lebih 16 channel. Sebenarnya agak sulit untuk membedakan kualitas sound dari audio interface dari masing-masing merek yang ada di pasaran terutama   untuk orang awam, karena tidak sedikit audio interface  khususnya audio interface yang lebih murah yang berani mengeluarkan fitur-f itur layaknya audio interface yang lebih mahal.

Continue Reading

Trending