Connect with us

Indie

Saptarasa Kembali Merilis CD dari EP ‘Anti-sceptist’​

Diterbitkan

pada

FaktualMusik- Dangdut Eksperimental Saptarasa baru saja merilis CD dari EP perdana mereka yang bertajuk ‘Anti-sceptist’. Sebelum merilis CD, ‘Anti-Sceptist’ terlebih dahulu dirilis via kaset oleh Nastard Records pada Record Store.

Dibawah naungan Paviliun Records (Efek Rumah Kaca, Glue, Gabriel Mayo), proses perilisan CD ini sendiri memang paling akhir setelah sebelumnya dirilis via Digital lewat gerai-gerai musik online seperti Spotify, Joox, iTunes dan sebagainya melalui Amplop Records. Berisi 5 track yang di-compose oleh sang vokalis Dewo Iskandar, EP ini adalah sebuah usaha dari Saptarasa untuk mengejawantahkan musik dangdut lewat disiplin-disiplin musik folk, psychedelic, rock, blues dan masih banyak lagi.

“Awal terpikir bikin konsep musik Saptarasa ini adalah ketika gue dengarin The Beatles yang ‘Within You, Without You’. Lagu itu kan nuansanya Raga, musik asal india yang juga akar dari musik dangdut. Disitulah gue berpikir untuk meracik formula lain dari dangdut dengan mengambil garis start dari akarnya” cetus Dewo. Mengakui bahwa konsep musiknya akan cukup mengundang banyak opini, Alex sang bassistmenjawab “Kami berangkat dari roots dangdut, apapun hasilnya, itulah bentuk eksperimen kami.

Bagaimanapun hasilnya, itulah rejeki terbaik untuk pendengar maupun pembuatnya. Saya rasa begitulah yang dinamakan berkarya, selalu tidak terduga apapun output-nya”.

Pada 30 April lalu, Saptarasa baru saja menyelenggarakan showcase ‘Anti-Sceptist’ yang juga diramaikan oleh 90 Horse Power, Tanya Ditaputri, Life Cicla dan AreYouAlone? di Paviliun 28, Jakarta. Dalam beberapa waktu ke depan, kemungkinan Saptarasa akan kembali mengadakan showcase di kota asal mereka. “Jangan berharap dulu, tunggu aja update kita selanjutnya. Too much coming soon will kill you, guys. Hehe.” tepis Ayu, sang kibordis.

Continue Reading
Beri Komentar

Berita

Merajut Kerukunan lewat Lagu

Diterbitkan

pada

By

Merajut Kerukunan lewat Lagu

FaktualMusik – Akibat Pemilu 2019 yang berdampak pada rusaknya kohesi sosial memicu keprihatinan sejumlah musisi Tanah Air.Mereka berupaya meredam konflik dan mendorong terajutnya kembali kerukunan sesama anak bangsa lewat karya musiknya. Beberapa musisi atau band dimaksud antara lain Yovie Widianto, Ari Lasso, BIP, D’Masiv, dan Ebiet G Ade.

Melalui karyanya mereka ingin menggugah kembali semua komponen bangsa yang terlibat dalam ingar-bingar pertarungan memperebutkan kekuasaan agar tetap menjaga perdamaian dan mengedepankan persatuan. Sumbangsih musisi untuk menciptakan kerukunan dan perdamaian, termasuk di level global, banyak tercatat dalam perjalanan dinamika zaman.

Kekuatan laguseperti Wind of Change yang dibawakan Scorpions dan Heal the World milik Michael Jackson pun terbukti mampu menjadi sarana mengajak publik untuk bersama-sama melawan kekerasan, konflik, peperangan, dan sebagainya. Di Tanah air juga ada lagu Perdamaian yang pernah dibawakan Nasida Ria dan band Gigi.

Barangkali inilah yang menginspirasi Yovie Widianto dkk untuk mencoba melakukan hal serupa. Yovie Widianto melalui gerakan Ruang Tengah Indonesia, misalnya, menciptakan lagu berjudul Hatiku Indonesia yang merupakan bentuk keprihatinan atas situasi bangsa yang memanas akibat banyaknya ujaran kebencian dan hoaks. Lewat Ruang Tengah Indonesia dan lagu dia ingin menyampaikan pesan kesatuan dan mencintai Tanah Air.

“Banyak hal yang bisa membuat publik mencintai Indonesia ketimbang bertengkar karena perbedaan pilihan calon presiden atau politik,” ujar Yovie

Dengan melibatkan sejumlah artis dan musisi seperti Nino “RAN”, Andien, Tulus, Febri Hivi, Eka Gustiwana, Prisia Nasution. Pentolan band Kahitna, Yovie & Nuno, dan 5 Romeo itu ingin bersama-sama mengajak masya rakat untuk tetap berpartisipasi aktif dalam demokrasi seperti pada Pemilihan Presiden 2019.

Namun di sisi lain dia ingin mengingatkan bahwa siapa pun yang dipilih, Indonesia tetaplah satu. “Pilihan kita sama, pilihan kita bisa juga beda, tapi hati kita tetap sama Indonesia,” tandasnya.

Sementara itu penyanyi solo Ari Lasso mengajak Pay dan Bongky bersama-sama meluapkan keprihatinan akan situasi bangsa Indonesia saat ini dengan membuat sebuah karya laguTak Harus Sama. Melalui lagi ini dia ingin memberikan pesan sekaligus semangat untuk merawat dan menjaga agar pemilu bisa berjalan lancar tanpa adanya kendala.

Dalam lagu tersebut, solis kelahiran Madiun, 17 Januari 1973, itu begitu tegas dan lugas berbicara tentang kondisi Indonesia kini yang diselimuti caci-maki dan saling membenci, yang berpotensi menimbulkan perpecahan bangsa. “Saya dan Pay sepakat, kami harus menuangkannya dalam sebuah lagu, sebuah renungan, sebuah pemikiran, sebuah sikap, dan sebuah ajakan,” tutur Ari Lasso.

Suami Vita Dessy itu menandaskan, sebagai musisi dirinya punya kewajiban untuk menciptakan lagu yang memberikan pesan optimistis untuk kehidupan yang damai serta lebih baik, sekaligus mengajak semakin mencintai bangsa dengan memberikan yang terbaik.

Salah satunya dengan berpartisipasi dalam pemilihan umum yang dilaksanakan secara damai. Sebelumnya, jelang pelaksanaan pesta demokrasi Pemilu Serentak 2019, grup band BIP terlebih dulu merilis video musik terbaru mereka berjudul Kita Bisa yang diharapkan mampu mencairkan suasana “gerah” di tahun politik ini.

“Kita Bisa bukan hanya bercerita tentang keadaan Indonesia akhir-akhir ini yang penuh dengan dikotomi pertentangan panas kedua kubu pendukung paslon jelang Pemilu 2019, tetapi juga menjadi sebuah terapi isi kepala dan hati, yang awalnya penuh kebencian untuk kembali menuju kedamaian,” ungkap gitaris BIP Parlin B Siburian atau yang akrab dengan sapaan Pay.

Pencipta lagu resmi Asian Games 2018 bertajuk Meraih Bintang itu beranggapan bahwa membuat lagu bukan hanya berkarya, tetapi mesti membawa misi dan pesan khusus kedamaian. Sebab itulah BIP memilih menjadi musisi yang lebih menyuarakan kedamaian (peace) daripada menyuarakan pilihan politik mereka.

“Kita menulis beberapa resep, bagaimana cara kembali pada suasana damai jelang Pemilu 2019 dan itu bisa kita dengar pada kutipan lirik ‘Aku benci waktu dikuasai rasa benci, aku berharap kita bisa berbagi cinta’,” tambahnya.

Vokalis yang juga pemimpin band D’Masiv, Rian, juga tergugah menciptakan lagu bertema perdamaian setelah dirinya melihat kondisi terkini bangsa Indonesia yang belakangan diwarnai sentimen SARA dan tindak kekerasan karena perbedaan pandangan dan pilihan. Bahkan D’Masiv membuat dua lagu bertema perdamaian, masing-masing berjudul Damai dan Bersama dalam Cinta

“Aku pingin kita tuh walaupun beda, kita masih sama-sama. Walau beda kita tuh jangan berantem-berantem lagi, jangan ada lagi yang saling merasa bener dan aku s eneng kan saling berbagi kebaikan, saling bantu,” katanya.Menurut ayah Euralia Cassidi Rian itu, di Indonesia masalah kepercayaan dan pilihan politik adalah urusan individu masing-masing dan siapa pun harus menghargai perbedaan tersebut untuk menghadirkan suasana perdamaian.

Musisi senior Ebiet G Ade pun tak mau kalah berpartisipasi menciptakan suasana damai di tengah ingarbingar politik yang terjadi selama Pemilu 2019 ini dengan merilis kembali lagu Untuk Kita Renungkan.

Sumber Berita : Sindonews dot com

Continue Reading

Indie

Nosstress Indie Band dari Bali, Menarik Untuk Dikenali

Diterbitkan

pada

By

FaktualMusik – Nostress adalah band folk asal Bali  yang terdiri dari Cok Bagus (cahon, harmonika, pianika), Kupit (vokal, gitar) dan Man Angga (vokal, gitar) ini juga berkontribusi pada sejumlah proyek lepasan yang masing-masing punya cerita.

Di balik musiknya yang sederhana, lirik lirik yang ada pada lagu Nosstress mempunyai sindiran muatan politik yang sangat kental. Bersama dengan banyak musisi asal Bali lainnya, mereka berkampanye menentang kebijakan politik yang dianggap merugikan alam itu.

Tak hanya soal politik, secara sadar, Nosstress juga memilih untuk menceritakan hal-hal yang dekat dengan kaitanyya masalah sosial kehidupan sehari-hari itu.

Mendengarkan musik Nosstress secara intens, seolah mendapat cakrawala baru tentang bagaimana hidup dijalankan di Bali yang tidak melulu perkara turisme. Mereka mengajak para pendengar musik mereka untuk menanam pohon, menjaga lingkungan sekitarnya, melihat lebih dalam sikap sosial manusia urban yang tergerus jaman modernisasi. Ketika musik mereka menyuguhkan sindiran terhadap sikap acuh, amarah, anti-sosial,, kelas sosial, tidak peduli lingkungan dan yang terakhir highgadget-nya masyarakat Indonesia dewasa ini.

Pesan yang mereka sampaikan begitu mengena dengan genre musik yang mereka pilih yaitu folk, mengingatkan kita kepada sosok Iwan Fals dan Dik Doang yang nyeleneh namun kritis terhadap isu-isu sosial di masyarakat.

Paduan suara yang variatif menjadi sajian tersendiri, Single “Buka Hati” contohnya, lagu yang berceritakan kritikan terhadap kondisi urbanisasi di berbagai daerah di Bali.Sebuah lirik sederhana yang tajam, namun harmonis komposisi aransemen di dalamnya.

Lalu ada “Tanam Saja” dan”Tak Pernah Terlambat” Satu hal yang begitu menarik dari band yang bernama Nosstress ini adalah cara mereka menyanyikan lagu dengan bergaya seperti sinden khas pulau Dewata. Bayangkan anda terjebak kemacetan saat berkendaraan dan ketika itu matahari berada tepat di atas kepala anda, sudah pasti anda berharap berada di bawah rindangnya pohon.

Bagi anda yang jenuh dengan raungan musik distorsi, dan bagi anda yang penat dengan ocehan sumpah serapah maka cobalah sentuh telinga anda dengan alunan nada-nada manis ciptaan tiga anak muda urban di Denpasar ini.

Continue Reading

Indie

Festival Musik Jazz di Indonesia

Diterbitkan

pada

By

FaktualMusik – Secara umum festival musik jazz adalah merupakan ajang silaturahmi antar musisi musik jazz dengan sesama musisi musik jazz lainnya, yang bertujuan sebagai sarana tukar menukar ilmu pengetahuan dan  kemampuan dalam hal bermusik dalam kategori genre jazz itu sendiri.

Festival seperti Jakarta International Java Jazz, Jakjazz dan juga Jazz Goes to Campus merupakan sarana silaturahmi dan sharing kemampuan serta skill, bahkan festival – festival tersebut juga mampu menjadi sarana sosialisasi musik jazz secara efektif selain menggunakan media massa seperti TV dan radio ataupun internet.

Itulah sekelumit cerita singkat tentang bagaimanakah musik jazz berkembang di Indonesia dari jaman ke jaman hingga akhirnya musik jazz memiliki pecinta yang tidak sedikit juga di Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan gelaran musik jazz juga selalu dipadati oleh penonton setianya.
Menarik bukan? Sebuah musik hasil idealisme bermusik sebagai tujuan untuk menuntut kesetaraan dari bangsa Afrika di Amerika Serikat mampu diterima dengan baik dan kawin secara klop dengan berbagai genre musik yang ada di Indonesia.

Sehingga munculah sub genre dari musik jazz itu sendiri seperti Funk, Jump Blues, Jazz Latin, Swing Mini Jazz, Neo Bop, Cool Jazz, Creative Jazz, Hard Bop, Smooth Jazz, Soul Jazz, Jazz tradisional, Gypsy Jazz, Jazz Fusion, hingga Pop Jazz. Dimana memang menjadi sebuah saya tarik tersendiri ketika musik jazz digelar sebagai sebuah pentasan yang menarik bagi khalayak ramai, dan semoga musik Indonesia maju selalu. Salam.

Continue Reading

Trending