Connect with us

Indie

The Panasdalam Sukses Membuat Rusuh Saat Tampil di Atas Panggung

Diterbitkan

pada

The Panasdalam Ngabuburit 2018
DCDC

FN MUSIK – The Panasdalam sukses membuat “rusuh” kala tampil diatas panggung dalam gelaran DCDC Shout Out Ngabuburit di Garut, Jumat (1/6/2018). The Panasdalam jadi band yang benar-benar bisa menggebrak panggung, baik itu secara istilah maupun secara harfiah ketika Pidi Baiq, vokalis The Panasdalam benar-benar menggebrak meja, saat dia melompat dari panggung dan menyuruh penggemarnya bernyanyi bersama.

Pidi Baiq yang biasa dipanggil “ayah”, masih sempat menyalakan rokok, dan meminjam korek dari penonton. Kejadian ini tidak terduga, karena tiba-tiba saja dia melompat dan memberikan mic pada penonton. Sedangkan dia hanya memberi komando saja.

Pidi Baiq, The Panasdalam 2018

Pidi Baiq, Vokalis sekaligus penggagas grup musik The Panasdalam

Dengan gaya yang mengundang gelak tawa, Pidi Baiq yang juga merupakan penulis buku Dilan Milea ini sering lupa lirik-lirik lagu The Panasdalam, padahal dia sendiri yang membuat lagunya. Menurutnya dia lebih hafal Al-Quran dibanding lirik lagunya. Sontak saja ujaran itu disambut tawa penonton yang pecah.

Pun begitu saat Pidi Baiq bersama The Panasdalam membawakan lagu mereka yang berjudul “Cita-Citaku”, yang menurut si ayah adalah sebuah lagu dari Malaysia, dengan penegasan aksen e jadi eu (Citeu-Citeuku).

Ditengah lagu si ayah memberikan pernyataan tentang betapa enak jadi perempuan, karena tinggal buka aurat, maka laki-laki akan berusaha keras mendapatkannya. Kemudian di akhir lagu, dia kembali memberikan pernyataannya, dan kali ini berisi pesan-pesan dari Firaun, yang berpesan jika ingin jadi tuhan, belajarlah berenang, agar tidak tenggelam di laut merah.

Setelahnya, di lagu “Maklum Poek”, duo vokalis The Panasdalam dan Pidi Baiq, berhasil “memprovokasi” penonton untuk naik ke atas panggung. Dan ajakan itu pun disambut, saat sekitar sepuluh orang penonton ikut “rusuh” bersama The Panasdalam di atas panggung, bernyanyi bersama, “meliar” dalam lagu “Maklum Poek”. Sampai akhirnya The Panasdalam menutup penampilannya dengan lagu “Tong Gandeng”. Sebuah lagu yang diambil dari album Only Ninja Can Stop Me Now.

The Panasdalam 2018

Lirik lagu “Tong Gandeng” berisikan ujaran-ujaran lucu dalam bahasa sunda, yang makin pecah saat si ayah kembali memberikan mic pada penonton, dari atas meja. Dia berujar “maneh weh nu nyanyi, aing mah dek dahar”, (kamu aja yang nyanyi, aku mau makan).

Hal ini “disantap” penggemarnya untuk bernyanyi bersama dengan suara paling lantang dari mereka. Makin “rusuh” dan lucu, terlebih karena lirik lagu ini berisi ujaran-ujaran jenaka seperti “tong gandeng aya nu adzan, aing mah bae da nu adzan na”. Atau “tong paeh, acan waktuna, aing mah moal, da embung, maneh weeeh”. Yang dalam bahasa Indonesia berarti, “jangan berisik, ada yang adzan, kalau aku biarin, karena aku yang adzan nya”, dan “jangan mati, belum waktunya, aku ga mau, kamu aja”.

Continue Reading
Beri Komentar

Indie

Padukan Ska dan Balet, Skastra Rilis Video Klip ‘Cepat-Cepat’

Diterbitkan

pada

By

Skastra grup band
Skastra

DEPOK, FaktualMusik – Skastra baru saja meluncurkan video klip Cepat-Cepat pada Jumat (14/2/2020). Cepat-Cepat merupakan single pertama dari album Persona. Di video klip ini Skastra menampilkan perpaduan antara musik ska dengan tari balet.

“Biasanya ska identik sama pogo dance atau skankin dance ya. Tapi di video klip ini kami mau eksperimen aja, kalau ternyata ska itu bisa nge-blend juga sama tarian ala-ala balet. Ada juga tarian pake bendera, yang biasanya dimainin colorguard di marching band,” jelas Adi Ahdiat, gitaris Skastra.

Video klip cepat-Cepat disutradarai Adi Ahdiat bersama Adityo Wibowo. Sedangkan koreografinya digarap oleh Ferlita Andriani dan Dedi Setiawan, yang sekaligus merangkap sebagai penari di video ini. Saat ini video klip Cepat-Cepat sudah bisa disaksikan di kanal Youtube. Lagu-lagu lain dalam album Persona juga bisa dinikmati di kanal musik digital seperti iTunes, Spotify, Joox, Youtube Music, dan lain-lain.

Persona adalah album penuh kedua Skastra, berisi sepuluh lagu dengan aransemen lintas selera dan permainan syair bahasa Indonesia. Dari segi musik, album Persona menyajikan peleburan antara irama ska/rock steady dengan berbagai genre lain seperti jazz, pop, blues, reggae, swing, rock, dub, sampai bossanova.

Sedangkan dari segi lirik, lagu-lagu Persona mengusung tema seputar personalitas, gambaran karakter manusia yang majemuk, dengan lika-liku hidup masing-masingnya yang unik dan tak tergantikan. Album CD Persona didistribusikan di sleuruh jaringan toko DeMajors. Skastra juga mengadakan seremoni peluncuran album fisiknya di Kios Ojo Keos, Jakarta Selatan, pada Minggu (16/2/2020).


 

Tentang Skastra

Skastra adalah band berhaluan ska yang terbentuk pada penghujung Oktober 2015 di pelataran kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Depok.

Setelah beberapa kali gonta-ganti personil, saat ini Skastra beranggotakan delapan orang yakni: Alduri Asfirna (vocal), Ibrahim Rahman (drum), Rasmana Raga (bass), Adi Ahdiat (guitar), Fazrin Mustakin (guitar), Hanung T. Wibawa (keyboard), Faris Sutowijoyo (trombone), dan Taufiq Alkatiri (trumpet).

Berbeda dengan ska yang umum dimainkan Tipe-X, Shaggy Dog, atau Souljah, Skastra mencoba menciptakan karakter ska-nya sendiri dengan mengawinsilangkan berbagai unsur musik berbeda.

Tahun 2016, SKASTRA sempat dilirik oleh salah satu major label ternama Indonesia dan diajak kerja sama untuk pembuatan original soundtrack (OST) film layar lebar. Demi meluaskan pengalaman bermusik, tanpa ragu SKASTRA menyanggupi tantangan itu dan langsung menulis lagu single berjudul Makan Hati.

Hasilnya, selain lolos didaulat sebagai OST untuk film layar lebar Security Ugal-Ugalan (2017), lagu Makan Hati juga pernah diputar serentak di radio-radio seluruh Indonesia.

Selesai dengan urusan soundtrack, SKASTRA sempat ditawari kontrak rekaman oleh major label yang sama. Namun, karena beberapa pertimbangan terkait visi-misi bermusik, akhirnya SKASTRA memutuskan untuk menolak tawaran tersebut dan memantapkan diri berkarya di jalur indie.

Dan sekarang, di usianya yang sudah menginjak empat tahun, SKASTRA meluncurkan album penuh kedua yang bertajuk Persona.


 

Skastra grup band

Skastra

Profil Skastra

Diskografi Skastra:
2016 – Renjana (EP)
2017 – Makan Hati (Single – OST Security Ugal-Ugalan)
2017 – Minor 7 (Full Album)
2018 – Rendez-vous (Single)
2019 – Linimasa (Single)
2019 – Persona (Full Album)

Personil Skastra:
Alduri Asfirna – Vocal
Ibrahim Rahman – Drum
Rasmana Raga – Bass
Adi Ahdiat – Hollow Body Guitar
Fazrin Mustakin – Electric Guitar
Hanung Teguh Wibawa – Keyboard
Taufiq Alkatiri – Trumpet
Faris Sutowijoyo – Trombone

Continue Reading

Berita

Merajut Kerukunan lewat Lagu

Diterbitkan

pada

By

Merajut Kerukunan lewat Lagu

FaktualMusik – Akibat Pemilu 2019 yang berdampak pada rusaknya kohesi sosial memicu keprihatinan sejumlah musisi Tanah Air.Mereka berupaya meredam konflik dan mendorong terajutnya kembali kerukunan sesama anak bangsa lewat karya musiknya. Beberapa musisi atau band dimaksud antara lain Yovie Widianto, Ari Lasso, BIP, D’Masiv, dan Ebiet G Ade.

Melalui karyanya mereka ingin menggugah kembali semua komponen bangsa yang terlibat dalam ingar-bingar pertarungan memperebutkan kekuasaan agar tetap menjaga perdamaian dan mengedepankan persatuan. Sumbangsih musisi untuk menciptakan kerukunan dan perdamaian, termasuk di level global, banyak tercatat dalam perjalanan dinamika zaman.

Kekuatan laguseperti Wind of Change yang dibawakan Scorpions dan Heal the World milik Michael Jackson pun terbukti mampu menjadi sarana mengajak publik untuk bersama-sama melawan kekerasan, konflik, peperangan, dan sebagainya. Di Tanah air juga ada lagu Perdamaian yang pernah dibawakan Nasida Ria dan band Gigi.

Barangkali inilah yang menginspirasi Yovie Widianto dkk untuk mencoba melakukan hal serupa. Yovie Widianto melalui gerakan Ruang Tengah Indonesia, misalnya, menciptakan lagu berjudul Hatiku Indonesia yang merupakan bentuk keprihatinan atas situasi bangsa yang memanas akibat banyaknya ujaran kebencian dan hoaks. Lewat Ruang Tengah Indonesia dan lagu dia ingin menyampaikan pesan kesatuan dan mencintai Tanah Air.

“Banyak hal yang bisa membuat publik mencintai Indonesia ketimbang bertengkar karena perbedaan pilihan calon presiden atau politik,” ujar Yovie

Dengan melibatkan sejumlah artis dan musisi seperti Nino “RAN”, Andien, Tulus, Febri Hivi, Eka Gustiwana, Prisia Nasution. Pentolan band Kahitna, Yovie & Nuno, dan 5 Romeo itu ingin bersama-sama mengajak masya rakat untuk tetap berpartisipasi aktif dalam demokrasi seperti pada Pemilihan Presiden 2019.

Namun di sisi lain dia ingin mengingatkan bahwa siapa pun yang dipilih, Indonesia tetaplah satu. “Pilihan kita sama, pilihan kita bisa juga beda, tapi hati kita tetap sama Indonesia,” tandasnya.

Sementara itu penyanyi solo Ari Lasso mengajak Pay dan Bongky bersama-sama meluapkan keprihatinan akan situasi bangsa Indonesia saat ini dengan membuat sebuah karya laguTak Harus Sama. Melalui lagi ini dia ingin memberikan pesan sekaligus semangat untuk merawat dan menjaga agar pemilu bisa berjalan lancar tanpa adanya kendala.

Dalam lagu tersebut, solis kelahiran Madiun, 17 Januari 1973, itu begitu tegas dan lugas berbicara tentang kondisi Indonesia kini yang diselimuti caci-maki dan saling membenci, yang berpotensi menimbulkan perpecahan bangsa. “Saya dan Pay sepakat, kami harus menuangkannya dalam sebuah lagu, sebuah renungan, sebuah pemikiran, sebuah sikap, dan sebuah ajakan,” tutur Ari Lasso.

Suami Vita Dessy itu menandaskan, sebagai musisi dirinya punya kewajiban untuk menciptakan lagu yang memberikan pesan optimistis untuk kehidupan yang damai serta lebih baik, sekaligus mengajak semakin mencintai bangsa dengan memberikan yang terbaik.

Salah satunya dengan berpartisipasi dalam pemilihan umum yang dilaksanakan secara damai. Sebelumnya, jelang pelaksanaan pesta demokrasi Pemilu Serentak 2019, grup band BIP terlebih dulu merilis video musik terbaru mereka berjudul Kita Bisa yang diharapkan mampu mencairkan suasana “gerah” di tahun politik ini.

“Kita Bisa bukan hanya bercerita tentang keadaan Indonesia akhir-akhir ini yang penuh dengan dikotomi pertentangan panas kedua kubu pendukung paslon jelang Pemilu 2019, tetapi juga menjadi sebuah terapi isi kepala dan hati, yang awalnya penuh kebencian untuk kembali menuju kedamaian,” ungkap gitaris BIP Parlin B Siburian atau yang akrab dengan sapaan Pay.

Pencipta lagu resmi Asian Games 2018 bertajuk Meraih Bintang itu beranggapan bahwa membuat lagu bukan hanya berkarya, tetapi mesti membawa misi dan pesan khusus kedamaian. Sebab itulah BIP memilih menjadi musisi yang lebih menyuarakan kedamaian (peace) daripada menyuarakan pilihan politik mereka.

“Kita menulis beberapa resep, bagaimana cara kembali pada suasana damai jelang Pemilu 2019 dan itu bisa kita dengar pada kutipan lirik ‘Aku benci waktu dikuasai rasa benci, aku berharap kita bisa berbagi cinta’,” tambahnya.

Vokalis yang juga pemimpin band D’Masiv, Rian, juga tergugah menciptakan lagu bertema perdamaian setelah dirinya melihat kondisi terkini bangsa Indonesia yang belakangan diwarnai sentimen SARA dan tindak kekerasan karena perbedaan pandangan dan pilihan. Bahkan D’Masiv membuat dua lagu bertema perdamaian, masing-masing berjudul Damai dan Bersama dalam Cinta

“Aku pingin kita tuh walaupun beda, kita masih sama-sama. Walau beda kita tuh jangan berantem-berantem lagi, jangan ada lagi yang saling merasa bener dan aku s eneng kan saling berbagi kebaikan, saling bantu,” katanya.Menurut ayah Euralia Cassidi Rian itu, di Indonesia masalah kepercayaan dan pilihan politik adalah urusan individu masing-masing dan siapa pun harus menghargai perbedaan tersebut untuk menghadirkan suasana perdamaian.

Musisi senior Ebiet G Ade pun tak mau kalah berpartisipasi menciptakan suasana damai di tengah ingarbingar politik yang terjadi selama Pemilu 2019 ini dengan merilis kembali lagu Untuk Kita Renungkan.

Sumber Berita : Sindonews dot com

Continue Reading

Indie

Saptarasa Kembali Merilis CD dari EP ‘Anti-sceptist’​

Diterbitkan

pada

By

FaktualMusik- Dangdut Eksperimental Saptarasa baru saja merilis CD dari EP perdana mereka yang bertajuk ‘Anti-sceptist’. Sebelum merilis CD, ‘Anti-Sceptist’ terlebih dahulu dirilis via kaset oleh Nastard Records pada Record Store.

Dibawah naungan Paviliun Records (Efek Rumah Kaca, Glue, Gabriel Mayo), proses perilisan CD ini sendiri memang paling akhir setelah sebelumnya dirilis via Digital lewat gerai-gerai musik online seperti Spotify, Joox, iTunes dan sebagainya melalui Amplop Records. Berisi 5 track yang di-compose oleh sang vokalis Dewo Iskandar, EP ini adalah sebuah usaha dari Saptarasa untuk mengejawantahkan musik dangdut lewat disiplin-disiplin musik folk, psychedelic, rock, blues dan masih banyak lagi.

“Awal terpikir bikin konsep musik Saptarasa ini adalah ketika gue dengarin The Beatles yang ‘Within You, Without You’. Lagu itu kan nuansanya Raga, musik asal india yang juga akar dari musik dangdut. Disitulah gue berpikir untuk meracik formula lain dari dangdut dengan mengambil garis start dari akarnya” cetus Dewo. Mengakui bahwa konsep musiknya akan cukup mengundang banyak opini, Alex sang bassistmenjawab “Kami berangkat dari roots dangdut, apapun hasilnya, itulah bentuk eksperimen kami.

Bagaimanapun hasilnya, itulah rejeki terbaik untuk pendengar maupun pembuatnya. Saya rasa begitulah yang dinamakan berkarya, selalu tidak terduga apapun output-nya”.

Pada 30 April lalu, Saptarasa baru saja menyelenggarakan showcase ‘Anti-Sceptist’ yang juga diramaikan oleh 90 Horse Power, Tanya Ditaputri, Life Cicla dan AreYouAlone? di Paviliun 28, Jakarta. Dalam beberapa waktu ke depan, kemungkinan Saptarasa akan kembali mengadakan showcase di kota asal mereka. “Jangan berharap dulu, tunggu aja update kita selanjutnya. Too much coming soon will kill you, guys. Hehe.” tepis Ayu, sang kibordis.

Continue Reading

Trending