Connect with us

Featured

Siapa yang Mau…? Beasiswa S2 Meneliti Musik Genre Metal Rock

Diterbitkan

pada

Siapa Mau…? Beasiswa S2 Meneliti Musik Genre Metal Rock

FaktualMusik – Untuk kamu yang punya ketertarikan dengan musik, khususnya musik metal, ada kesempatan untuk bisa mengenal genre musik ini lebih dalam. Ada beasiswa S2 untuk kamu mempelajari musik tersebut.

NME mengabarkan beasiswa tersebut disiapkan oleh Universitas of Newcastle di Australia. Biaya pendidikan itu boleh digunakan untuk mempelajari atau meneliti Geografi Sosial Budaya Heavy Metal.

Hanya ada dua beasiswa yang disiapkan, satu hanya untuk penduduk lokal dan satu lagi untuk calon mahasiswa internasional. Dalam keterangannya, pihak universitas menilai heavy metal adalah musik yang lahir dari negara-negara di garis lintang utara, Australia yang jauh dari itu mencoba melakukan pendekatan.

Selain untuk meneliti musik metal, ada juga beasiswa lainnya. Universitas of Newcastle juga menyiapkan dana pendidikan untuk yang ingin mendalami Homelessnes and Mutual Aid, Vegan Geographies, dan The Possibilities of Childhood.

Kamu berminat?

Continue Reading
Beri Komentar

Berita

Badai Pasti Berlalu: Titik Badai Pasti Berlalu: Titik Puncak Musik Pop Indonesia”

Diterbitkan

pada

By

FaktualMusik – Ketika memutuskan pulang dari Jerman ke Indonesia pada 1975, Eros Djarot hanya punya satu keinginan: meneruskan misinya bermusik dengan gaya Indonesia. Di Jerman, Eros membentuk Barong’s Band, bersama Tri Anggono Sudewo (drum), Choqy Hutagalung (keyboard), Epot (bass), dan Darmadi (gitar). Barong’s Band konsisten membawakan lagu-lagu bikinan sendiri dalam bahasa Indonesia

…..  sebuah keputusan kreatif yang berani mengingat mereka sedang tinggal di negeri orang. “Kami tetap bertekad ingin nge-band dengan semangat Indonesia. Kita, kan, orang Indonesia,” kenang Eros suatu ketika sebagaimana dicatat kritikus musik almarhum Denny Sakrie. Bagi Eros, condong ke Barat tak menjamin karya band jadi keren.

Alih-alih banyak mengambil pengaruh dari negeri bule, band-band Indonesia seharusnya menggali potensi budaya dalam negeri yang begitu beragam, termasuk soal bahasa. Baca juga: Guruh Gipsy: Cukup Satu Album, Setelah Itu Abadi Sesampainya di Tanah Air, aktivitas Eros banyak dihabiskan di rumah milik Nasution Bersaudara yang berlokasi di Pegangsaan Barat 12, Menteng, Jakarta Pusat. Di sana, Eros kerap bertukar gagasan soal musik bersama Chrisye, Guruh Sukarnoputra, Keenan, Debby, hingga Gauri Nasution.

Proses inilah yang kemudian menuntun pada lahirnya dua mahakarya: Guruh Gipsy dan Badai Pasti Berlalu. Dua-duanya dirilis pada tahun yang sama (1977). Nama pertama dianggap sebagai cetak biru musik rock progresif di Indonesia, sementara satunya adalah gebrakan dalam industri musik pop yang kala itu sedang stagnan.

Tantangan Teguh Karya Cerita Badai Pasti Berlalu bermula pada pertengahan 1970-an. Saat itu, Eros berkenalan dengan Teguh Karya, sutradara film sekaligus pembesar Teater Populer—tempat di mana kakak Eros, Slamet Rahardjo, menimba ilmu drama. Perkenalan tersebut membikin Eros, yang dikenal blak-blakan, leluasa mengkritik lagu-lagu dalam film Teguh. Suatu waktu, kritik Eros membuat Teguh jengah. Ia pun berbalik menyerang Eros.

“Kalau elu ngerti, coba, deh, elu aja yang bikin ilustrasi musik film gua nanti. Gua pengen tau, tuh, hasilnya kaya apa,” tegas Teguh sebagaimana dikutip almarhum Denny Sakrie.

Eros seketika tertantang dan tanpa pikir panjang menerima tawaran Teguh. Pada 1975, Eros, bersama Barong’s Band, mulai menggarap soundtrack untuk Kawin Lari, yang dibintangi Slamet dan Christine Hakim. Dalam proses pengerjaannya, Eros begitu terobsesi dengan karya yang orisinil. Ia tak ingin lagu-lagunya—sekali lagi—terdengar kebarat-baratan.

Demi mewujudkan visinya, Eros memborong sejumlah kaset dari band-band pop terkenal saat itu seperti Koes Plus, Panbers, hingga D’Llyod. Kaset-kaset ini menjadi santapan wajib para personel Barong’s. Tak lupa, Eros turut mengajak Keenan dan Debby Nasution sebagai personel tambahan Barong’s. Album yang dinanti akhirnya selesai diproduksi. Eros berhasil menciptakan beberapa lagu untuk Kawin Lari, dari “Oh Wanita”, “Bisikku”, hingga “Stambul Jakarta”.

Ada yang bergaya pop, ada juga yang berwarna keroncong. Satu hal yang pasti: Eros berhasil mengangkat “sentuhan Indonesia.” Pencapaian Eros makin lengkap tatkala ia diganjar Piala Citra untuk “Penata Musik Terbaik” dalam Festival Film Indonesia 1976. Setahun berselang, Teguh kembali meminta Eros menggarap musik latar untuk film yang kelak jadi salah satu magnum opus-nya, Badai Pasti Berlalu. Eros menyetujui tawaran Teguh dan segera mencari nama-nama yang akan membantu dirinya menyelesaikan proses penggarapan album.

Selain disibukkan proyek Guruh Gipsy, ia juga baru saja memperoleh popularitas lewat lagu “Lilin-Lilin Kecil” yang digubah James F. Sundah untuk album Lomba Cipta Lagu Remaja 1977 besutan Radio Prambors. Dari Chrisye, Eros lantas dikenalkan dengan Yockie Suryoprayogo, kibordis-komposer-arranger jempolan yang saat itu punya banyak proyek musik. “Saya belum kenal benar meski saya sudah tahu, dia penyanyi lewat Barong’s Band,” cerita Yockie kepada Kompas (28/6/2009) mengenai pertemuannya dengan Eros.

Setelah keduanya sepakat, proses pengerjaan album dimulai. Di luar Eros, Chrisye, dan Yockie, nama-nama lain yang masuk proyek ini ialah Berlian Hutauruk, Fariz R.M, Keenan, dan Debby Nasution. Mereka bekerja di studio sewaan yang berada di bilangan Pluit, Jakarta Utara. Studio ini bernama Irama Mas dan dimiliki oleh In Chung. Oleh Yockie, studio Irama Mas disebutnya lebih mirip “kandang”. Mulanya, yang dikerjakan hanya lagu untuk ilustrasi film—yang berkesinambungan dan durasinya bertumpu pada gambar-gambar dari alur cerita film itu sendiri.

Hanya saja, antusiasme mereka sulit dibendung dan pada akhirnya lagu-lagu tersebut direkam sekalian dalam format kaset. Total, ada 13 lagu yang tercipta. Beberapa di antaranya yaitu “Angin Malam”, Khayalku”, “Cintaku”, “Badai Pasti Berlalu”, “Semusim”, “Pelangi”, hingga “Merepih Alam”. Keseluruhan materi diaransemen oleh Eros, Chrisye, dan Yockie.

Proses penggarapan album Badai Pasti Berlalu bukannya tanpa masalah. Masalah pertama yang muncul adalah pemilihan nama Berlian Hutauruk. Bagi Teguh, Berlian bukanlah vokalis yang tepat untuk membawakan lagu-lagu Badai Pasti Berlalu. Alasannya: karakter vokal Berlian yang dianggapnya kelewat sopran.

Sebagai gantinya, Teguh menyodorkan nama Anna Mathovani yang lebih “lembut,” seperti saat ia menyanyikan “Cinta Pertama” karya Idris Sardi. “Teguh Karya sangat keberatan ketika saya memperdengarkan contoh rekaman Berlian Hutauruk yang akan dipergunakan dalam soundtrack film Badai Pasti Berlalu. ‘Suara apaan ini? Kayak suara kuntilanak,’ begitu kata Teguh,” kenang Eros.

Namun, baik Eros dan Yockie tak setuju. Menurut mereka, suara Berlian punya chemistry yang pas dengan nuansa aransemen musik yang dibangun dalam Badai Pasti Berlalu. Ketegangan tak bisa dihindarkan sampai akhirnya, demi menyelesaikan beda pendapat, Eros memberi Teguh ultimatum. “Kalo enggak setuju dengan konsep musik saya ini, ya, batalin aja semuanya,” kata Eros.

Masalah pun bisa teratasi. Teguh melunak dan menerima pilihan Eros. Masalah berikutnya muncul saat album selesai dibikin: tidak ada produser yang bersedia mengedarkannya. Alasannya: musik yang diusung Eros-Chrisye-Yockie dianggap aneh untuk sekelas pop. Lalu, karena merasa iba, In Chung datang seraya mengulurkan bantuan. Ia bersedia menjual album Badai Pasti Berlalu di toko kasetnya di Glodok, yang saat itu terkenal sebagai distributor lagu-lagu dangdut dan klenengan.

Tak dinyana, setelah diedarkan secara perlahan, album Badai Pasti Berlalu disambut baik oleh pasar. Radio-radio banyak memutar “Merepih Alam”. Pencapaian tersebut di luar ekspektasi Eros dan konco-konconya. Pasalnya, sejak awal, mereka tak peduli andaikata albumnya laku keras. Semua, mengutip kata-kata Yockie, “dikerjakan sukarela, penuh kebersamaan, persahabatan, dan kekeluargaan.” Bahkan, tak jarang, ketiganya harus nombok.

Kendati sukses besar, masalah lagi-lagi muncul usai album didistribusikan secara luas. Kali ini soal hak cipta dan royalti. Beberapa dekade setelahnya, masalah itu berbuntut ke pengadilan, melibatkan Eros dan Berlian. Dalam penggarapan Badai Pasti Berlalu, masing-masing personel tidak menerima royalti, melainkan sistem bayar putus. Ketika pekerjaan mereka selesai dan sudah menerima bayaran, tak ada lagi honor lanjutan dari royalti. Di kalangan musisi 1970-an, hal tersebut adalah praktik yang lazim.

Tonggak Pop Ada beberapa alasan mengapa album Badai Pasti Berlu disebut-sebut sebagai tonggak musik pop Tanah Air. Ketika album ini dilepas ke pasaran, industri musik pop digenangi lagu-lagu dengan tendensi komersial—dalam arti bahwa perkara kualitas pikir belakangan. Di tengah gejolak semacam itu, Badai Pasti Berlalu lahir sebagai antitesis.

Album ini menolak tunduk pada pakem “album pop biasa.” Album Badai Pasti Berlalu adalah album yang, menyitir kata-kata Yockie, lahir oleh “semangat dan greget yang jauh dari naluri industrial.” Jika tak percaya, Anda bisa simak sejak album ini dibuka dengan track “Pelangi” hingga ditutup lewat “Merpati Putih”. Komposisi musik yang disusun Yockie sangat berkelas.

Sesekali instrumentasi yang ia cipta memancarkan aura gloomy, kadang pula memantulkan kegelapan yang nihil harapan, sonder buaian. Progresi akornya pun tak bisa ditebak: Yockie dapat seenak jidat memasukkan warna baroque, chamber, dan, yang paling dahsyat, orkestrasi klasik abad 17 seperti yang dimainkan Bach. Musik Yockie yang katarsis ini makin terdengar paripurna—dan bernyawa—dengan kehadiran vokal Berlian yang tinggi menggelegar. Suara Berlian memberikan semacam ruh tersendiri di beberapa lagu Badai Pasti Berlalu. Ia membikin lirik-lirik ciptaan Eros—yang romantis namun tak terjebak pada pola mendayu-dayu—menjadi lebih hidup serta menyentuh sukma pendengarnya.

Album Badai Pasti Berlalu adalah salah satu jejak kolaborasi antara Yockie, Eros, dan Chrisye. Ketiganya punya riwayat panjang dalam dunia pop Tanah Air. Mereka setidaknya sudah bekerjasama dalam sembilan album.

Sumber berita :   Tirto dot id

Continue Reading

Berita

History Off Musik Dugem Bergoyang Menikmati Musik Disko Sampai Lupa Kemarin dan Esok.

Diterbitkan

pada

By

FaktualMusik – Musik yang mampu membawa mereka ke dunia lain,dunia tanpa waktu kemarin dan esok dunia yang cuma punya waktu sekarang. Kaum muda menikmati musik ini sembari bergoyang di bawah lampu kelap-kelip. Sekarang mereka menyebutnya musik ajeb-ajeb atau dugem (dunia gemerlap) dulu bernama disko.

Semua bermula dari kerisauan generasi baby boomers di Amerika Serikat dan Eropa. Mereka lahir seusai Perang Dunia II dan tumbuh besar dengan hasrat menata ulang kehidupan secara lebih tertib. Mereka sekolah, bekerja, menikah, lalu punya anak.

Lama-lama kehidupan begitu membosankan dan melelahkan bagi baby boomers. Stres menyerang dan pikiran terkekang. Mereka butuh hiburan setelah bekerja keras. Di negeri Barat sana, “bersantai adalah produk dari kerja keras”, tulis Erwin Ramedhan dalam “Gaya Hidup Disco di Jakarta” termuat di Prisma, 6 Juni 1977.

Musik yang bisa dinikmati sembari menari adalah wahana bersantai bagi baby boomers. Tapi pilihan mereka bukan pada musik rock, jazz, swing, funk, soul, dan salsa. Pilihan mereka jatuh pada musik campur-baur. Musik anak-anak muda itu melintas kultur Afro-Amerika, Hispanik, dan Italia-Amerika. Inilah musik disko. Demikian menurut Bob Batchelor dalam American Pop Volume 3: 1960–1989.

Rock, jazz, swing, funk, soul, dan salsa sanggup menggerakkan kepala, kaki, tangan, pinggul, bokong, dan badan orang. Tapi musik-musik itu tak pernah punya tempat khusus untuk dinikmati. Sedangkan musik disko punya. Tempat itu bernama diskotek.

Diskotek berasal dari bahasa Perancis, artinya perpustakaan piringan hitam. Ia berubah total di lorong-lorong sempit kota New York pada 1960-an. Ia menjadi tempat baby boomers menikmati musik disko ala Bee Gees, Donna Summer, dan Village People. Bir dan marijuana menemani baby boomers di diskotek sejak malam hingga hampir pagi.

Diskotek berbeda dari klub malam. Mereka memang jenis hiburan malam, sama-sama buka hanya pada malam hari. Tetapi diskotek tidak menyajikan musik langsung dari band atau penyanyi, melainkan lewat piringan hitam.
Aturan di diskotek juga lebih luwes ketimbang di klub malam. Oleh sebab itu, diskotek menjadi panggung bagi siapa saja untuk menunjukkan identitas tersembunyinya: gay, lesbi, dan biseks. Orang-orang itu melepaskan beban sosialnya di masyarakat melalui musik disko.

Mereka menggerakkan tubuh mengikuti lagu-lagu disko yang bermuatan sensualisme dan kebebasan bercinta. Musik disko menjadi pemersatu. Begitu gambaran Alan Jones dan Jussi Kantonen dalam Saturday Night Fever: The Story of Disco tentang pengaruh musik disko terhadap masyarakat multikultur Amerika Serikat.

Buku karya Alan Jones dan Jussi Kantonen meminjam judul film laris pada 1977, Saturday Night Fever. Film ini bercerita tentang bagaimana gaya hidup disko menjadi obsesi laki-laki bernama Tony Manero (diperankan oleh John Travolta). Film ini punya andil dalam menyebarkan musik disko berikut gaya hidupnya ke seluruh dunia.

Musik Disko ke Indonesia
Musik disko tak perlu menunggu lama untuk tersebar ke berbagai belahan dunia. Seorang pengusaha muda membuka diskotek pertama di Indonesia dan Asia Tenggara pada November 1970.
Tahun-tahun berikutnya diskotek lain bermunculan seperti Guwa Rama, Mini Disco, Pit Stop, Disco 369, dan Samantha Disco. Begitu catatan majalah Mas, No. 70, Agustus 1975, dalam artikel “Ajojing di Discotheque Lebih Murah Sebab No Hostess.”

Diskotek mengumandangkan musik disko di hotel, di tepi jalan, dan di gedung bertingkat. Kaum muda berdatangan malam demi malam. Hampir mirip di negeri Barat. Bedanya, sebagian besar kaum muda Indonesia penikmat musik disko berlatar belakang kelompok ekonomi menengah. Sehingga musik disko di sini menjadi simbol status suatu kelas sosial.

Penikmat musik disko punya cara berpakaian, berbahasa, berhias, dan berbelanja sendiri. Lelaki muda memakai sepatu bot, celana jeans yang melebar ke bawah atau ketat, kemeja impor dari Prancis dan Italia. Kaum perempuan menggunakan pakaian terbuka dengan bagian dada terbelah.

Penikmat disko berbahasa asing campur dengan bahasa Indonesia. Perhiasan mereka antara lain jam, kalung, medali, dan korek api mahal. Mereka membeli piringan hitam musik disko terkini supaya tidak ketinggalan bahan obrolan dengan sesama penggemar musik disko.
“Mereka yang melanggar undang-undang tidak tertulis ini akan segera menjadi bahan tertawaan atau lelucon,” tulis Erwin Ramedhan.

Harga menikmati musik disko tak terjangkau oleh kebanyakan kaum muda pas-pasan. Fahmy Alhady menyebutnya kaum tongpes (kantong kempes). Maka dia berupaya mengangkat Tanamur sebagai tempat untuk menikmati musik disko bagi kaum tongpes.
“Gak peduli siapapun kamu. Pakai sendal jepit atau sepatu. Supir truk atau berdasi, sepanjang mau dengar musik disko, silakan ke Tanamur,” kata Vincent, mantan DJ Tanamur 1982–2005, 

Tapi harga masuk Tanamur dan segelas bir tetap kelewat mahal bagi sebagian besar kaum muda di Jakarta. Kaum muda tongpes ini hanya bisa membayangkan musik disko dari liputan media massa seperti Midi, Varia, Mas, dan Kompas.

History Off Musik Dugem
Bergoyang menikmati musik disko. Sampai lupa kemarin dan esok.
Hingga datanglah anak muda bernama Adiguna Sutowo, putra Direktur Pertamina Ibnu Sutowo, mengantar musik disko dari rumah ke rumah. Merindink Disco, begitu Adiguna menamakan diskotiknya.

Adiguna bersama dua kawannya membeli seperangkat alat disko mutakhir dari Singapura: dari lampu, sound system, sampai piringan hitam. “Peralatan yang membikin minder disko-disko lain,” tulis majalah Mas, No. 61, Juni 1975.

Adiguna menyewakan alat-alat ini kepada penikmat disko. Harga sewanya cukup tinggi. Kawula muda kaya biasanya menyewa mereka untuk merayakan pesta ulang tahun ke-17 di rumah. Teman-teman si penyewa datang ke rumah dan menikmati musik disko secara gratis. Ada juga kawula muda yang patungan untuk memanggil Merindink ke rumah. Mereka hanya butuh izin dari tetangga sekitar dan ketua RT.

Adiguna mengaku tak mengharap untung dari penyewaan peralatan disko. “Pendirian diskonya ini semata-mata hanya untuk menyalurkan hobi saja. Daripada berkeliaran yang tidak karuan,” tulis Mas.

Dari merekalah musik disko kian melekat dengan kaum muda di pelbagai kota. Merindink tidak hanya menyewakan alat disko di sekitaran Jakarta, melainkan juga ke Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Makassar. Lagu-lagu disko mereka selalu paling baru. Semuanya lagu Barat.

Selain oleh liputan media massa dan Merindink, musik disko tersebar pula berkat andil pemutar kaset. Harga pemutar kaset lebih murah daripada pemutar piringan hitam. Begitu pula dengan harga sebiji kaset. Tersebab inilah orang memilih beli kaset ketimbang piringan hitam. Kaset disko menjadi kaset paling laku.

Saluran radio turut mengakrabkan musik disko dengan kaum muda. Saluran Prambors menjadi saluran radio paling gandrung memperdengarkan musik disko. Prambors bahkan mempunyai diskotik sendiri bernama Prambors Discotheque.

Prambors juga menggelar lomba Disc Jockey (DJ), pemutar piringan hitam di diskotek, dan mengadakan jambore penikmat musik disko antero negeri. Begitulah musik disko. Lama kelamaan tak lagi menjadi simbol status sosial kelas menengah.

Kritik untuk Musik Disko
Perluasan musik disko pada seluruh lapisan kaum muda di antero Indonesia ternyata membawa persoalan. Kaum muda di Nusa Tenggara Timur mengganti pakaian, tarian, dan bebunyian tradisional mereka dengan musik dan tarian disko. “Bunyi gong, kendang, dan tari adat terpojok ke dunia nostalgia masa lampau,” tulis Kompas, 27 Oktober 1980.

Dinas Kebudayaan DKI Jakarta menggelar lomba tari disko nasional pada awal 1980. Musik disko mengiringi setiap tarian yang dipentaskan. Mochtar Lubis, sastrawan kenamaan Indonesia, terperanjat. “Ya Allah, Mbok ya, bikin lomba ukir misalnya, lebih jelas manfaatnya,” kata Mochtar, dikutip Kompas, 25 April 1980.

Pendapat kontra juga datang dari seorang penulis bernama Firdaus Burhan. Dia menyerang musik disko habis-habisan. “Musik tanpa melodi,” tulis Firdaus. Dia mengibaratkan musik disko serupa gado-gado, sop, dan ketoprak dituang dalam satu piring. Musik tidak karuan. Pandangannya terhadap DJ pun sinis. “Tukang sadap karya komponis ulung,” sebut Firdaus.

Tapi Umar Kayam, budayawan, berupaya menenangkan. “Kita tidak perlu was-was.” Dia yakin musik disko hanya mode sesaat dan hanya dinikmati sebagian orang. Musik disko, bagi Umar Khayam, tidak punya pengaruh panjang.

Kenyataannya ternyata beda. Musik disko berumur panjang dan beranak-pinak melahirkan aneka genre musik untuk menari. Musik itu disebut electronic dance music. Alirannya macam-macam seperti house, techno, dubstep, chiptune, dan new wave.

Anak-anak musik disko ini tak lagi terkurung dalam tempat bernama diskotek. Mereka terdengar di lapangan parkir kendaraan, tepi pantai, dan tanah lapang. Mereka mengajak kaum muda bergoyang terus, melupakan hal-hal buruk yang terjadi di dunia kemarin atau nanti.

Sumberberita : historia dot id

Continue Reading

Featured

Hakekat Musik Dalam Kehidupan Manusia

Diterbitkan

pada

By

FaktualMusik – Musik itu dapat datang dari mana saja, dari berbagai alat ataupun benda-benda disekitar kita dalam sebuah musik jika kita dapat memahaminya didalamnya pasti terdapat sebuah arti tertentu. tanpa disadari pun musik itu sudah ada dalam kehidupan kita haya terkadang kita tidak pernah memperhatikannya.

“Dalam sebuah peristiwa tertentu musik dapat mencerminkan apa yeng sedang kita rasakan. mulai dari perasaan senang, sedih sampai pada perasaan yang tidak tentu.”

Musik memiliki makna yang lebih dalam dari pada hanya susunan dari rangakain sebuah nada. Menikmati sebuah musik memang bukan hal yang mudah, hanya pada saat-saat tertentu saja kita dapat menikmatinya, mungkin saat kita merasa sendiri dan tidak ada hal lain yang dapat kita kerjakan atau pada saat kita sedang bersama-sama dengan seseorang dan tanpa disengaja kita mendengarkan sebuah alunan nada.

‘“musik itu dapat mempengaruhi jiwa dan bagaimana sebuah musik itu dapat sangat mencerminkan keadaan kita”

Pada dasarnya elemen-eleman dari alunan nada itu hanya berasal dari bunyi-bunyi yang sangat dekat dengan kita, hanya sebagian orang yang mampu membuat susunan bunyi-bunyian itu menjadi sebuah nada-nada indah sesuai dengan apa yang dirasakan oleh orang tersebut. kita sebagai manusia normal yang dapat mendengar pasti dapat mengerti bagaimana alunan nada-nada itu tersusun dengan rapi hingga dapat menjadi sebuah alunan musik yang indah.

Jika saja semua orang mampu mengerti akan arti dari sebuah musik dan dapat menikmatinya tentu kehidupan ini akan sangat lebih berwarna jika hanya mendengarkan saja kita dapat menyukai sebuah lagu tertentu itu sudah dapat menggambarkan kalau kita memang sudah dapat menikmati sebuah musik dengan cara kita sendiri. Selera seseorang terhadap musik memang sendiri-sendiri, tapi kebanyakan dari itu pasti menyukai musik sesuai dengan apa yang mereka rasakan.

Tak banyak juga yang dapat aku ceritakan mengenai sebuah musik, karena aku juga hanya bisa sebatas menikmati musik sesuai dengan seleraku saja, tapi aku cuma ingin sedikit bebagi saja mengenai musik dalam hidupku yang baru dapat aku mengerti akhir-akhir ini.

Continue Reading

Trending