Connect with us

Chord

Setelah Bertahun-tahun Jadi Ikon Gitar Dunia, Kini Gitar Legendaris Gibson Terancam Bangkrut

Diterbitkan

pada

FaktualMusik – Setelah beberapa kali mendengar berita, bahwa angka penjualan gitar kian terus merosot, kini salah satu merk gitar tersohor dalam sejarah musik dunia, Gibson, sedang dalam permasalahan serius.
Perusahaan gitar asal Nashville, Gibson, kini sedang mengalami masa sulit, kesulitan yang tampak ironis mengingat hari ini dengan mudahnya kita menjadikan foto-foto penjualan gitar sebagai poster atau wallpaper semata.

Di Amerika Serikat, ramai diberitakan bahwa perusahaan ini sedang berjuang melawan lilitan utang. Rasa ‘desperate’ Gibson akhirnya mencapai titik kulmasi, sejak perusahaan berusia satu abad lebih ini ‘merelakan’ diri untuk memberlakukan sistem kredit bagi pembeli gitar dan jumlah kreditur ini terus-menerus bertambah.

Orang pertama yang ‘menekan’ tombol sirine tentang gawatnya berita ini, adalah Geert De Lombaerde, reporter Nashville Post. Ia yang menemukan fakta bahwa sejak Februari 2018 ini, utang perusahaan Gibson kian menumpuk, dan menjadikan status keuangan Gibson menjadi ‘in financial crisis’. De Lombaerde menunjuk angka terkini, di mana dana yang harus Gibson keluarkan mencapai 16,6 miliar dollar AS, sedangkan prediksi angka pemasukannya selama 2018 ‘hanya’ 375 juta dollar AS. Gibson sendiri sebenarnya sudah mengalami penurunan signifikan dalam penjualan gitar, sejak 2013 silam. Perusahaan gitar ikonik ini sudah pernah meminjam dana sebanyak 145 juta dollar AS ke sebuah bank. Selama 4 tahun berikutnya, Gibson kesulitan melunasi hutang ini per tanggal 23 Juli, sehingga angka hutangnya kian membengkak.

Perusahaan Gibson Guitar memulai kancah bisnisnya sejak 1902 silam, dan sudah menjadi darah-daging bagi kebanyakan musical life di America Serikat. Di tahun 1952, perusahaan ini pertama kali memproduksi Gibson Les Paul, sebuah signature yang menjadi kecintaan banyak gitaris dunia. Les Paul sendiri masih menyandang status sebagai one of the most famous guitar series of all time. Tampaknya, untuk waktu mendatang, semua kisah di atas hanya akan menjadi sejarah dan cerita panjang.

Gibson sempat berganti kepemilikan. Perusahaan ini pernah dibeli oleh Baldwin Piano, seharga 6,4 miliar dollar AS. Memasuki Februari 2018, Gibson sedang mencoba untuk menawarkan saham-sahamnya dengan harga yang lebih tinggi – guna mengobati jeratan krisis finansial berkepanjangan; bahkan menyelamatkan diri dari kebangkrutan. Kabar terakhir menyebutkan bahwa Gibson akan dijual kepada perusahaan properti di Nashville, The Valley Arts. Harga seluruh sahamnya ditaksir sebesar 11 miliar dollar AS. Namun, kabar ini direspon oleh Baldwin, sebagai rumor yang belum terkonfirmasi.

Semua investor, bondholders, dan data analis dari Gibson, sedang berusaha agar perusahaan ini mampu melipatgandakan annual revenues (pemasukan per tahun) sebanyak tiga kali lipat, hingga mencapai angka 1 miliar dollar AS. Jika di akhir 2018 nanti, angka ini belum juga tercapai, besar kemungkinan Gibson akan berstatus bangkrut. Sebuah ‘pekerjaan rumah’ yang tidak mudah, mengingat hari ini semakin banyak musisi bisa memproduksi musik dengan aneka fasilitas home-recording dan digital audio workstation. Belum lagi perubahan besar pada lifestyle anak muda zaman now sangat berpengaruh terhadap seberapa butuh mereka terhadap gitar, sebagai alat pemuas kebutuhan.

Kevin Cassidy, pekerja senior di sebuah kantor kreditur, Moody’s Investors Service, mengiyakan sebuah asumsi, bahwa melorotnya perusahaan Gitar Gibson disebabkan oleh perubahan besar-besaran yang pernah terjadi di tubuh perusahaan ini – termasuk kualitas kepemimpinan dan aspek total control yang tidak sebaik zaman-zaman sebelumnya.

Legenda gitar dunia, Eric Clapton, berpendapat perihal peristiwa ini. Menurutnya, jika Gibson bangkrut dan perusahaannya tutup, Clapton tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada dunia musik. Mungkin ini akan menjadi akhir era dari alat musik gitar.
Sumber foto: Deviant Art

Advertisement
Beri Komentar