Connect with us

Berita

Badai Pasti Berlalu: Titik Badai Pasti Berlalu: Titik Puncak Musik Pop Indonesia”

Diterbitkan

pada

FaktualMusik – Ketika memutuskan pulang dari Jerman ke Indonesia pada 1975, Eros Djarot hanya punya satu keinginan: meneruskan misinya bermusik dengan gaya Indonesia. Di Jerman, Eros membentuk Barong’s Band, bersama Tri Anggono Sudewo (drum), Choqy Hutagalung (keyboard), Epot (bass), dan Darmadi (gitar). Barong’s Band konsisten membawakan lagu-lagu bikinan sendiri dalam bahasa Indonesia

…..  sebuah keputusan kreatif yang berani mengingat mereka sedang tinggal di negeri orang. “Kami tetap bertekad ingin nge-band dengan semangat Indonesia. Kita, kan, orang Indonesia,” kenang Eros suatu ketika sebagaimana dicatat kritikus musik almarhum Denny Sakrie. Bagi Eros, condong ke Barat tak menjamin karya band jadi keren.

Alih-alih banyak mengambil pengaruh dari negeri bule, band-band Indonesia seharusnya menggali potensi budaya dalam negeri yang begitu beragam, termasuk soal bahasa. Baca juga: Guruh Gipsy: Cukup Satu Album, Setelah Itu Abadi Sesampainya di Tanah Air, aktivitas Eros banyak dihabiskan di rumah milik Nasution Bersaudara yang berlokasi di Pegangsaan Barat 12, Menteng, Jakarta Pusat. Di sana, Eros kerap bertukar gagasan soal musik bersama Chrisye, Guruh Sukarnoputra, Keenan, Debby, hingga Gauri Nasution.

Proses inilah yang kemudian menuntun pada lahirnya dua mahakarya: Guruh Gipsy dan Badai Pasti Berlalu. Dua-duanya dirilis pada tahun yang sama (1977). Nama pertama dianggap sebagai cetak biru musik rock progresif di Indonesia, sementara satunya adalah gebrakan dalam industri musik pop yang kala itu sedang stagnan.

Tantangan Teguh Karya Cerita Badai Pasti Berlalu bermula pada pertengahan 1970-an. Saat itu, Eros berkenalan dengan Teguh Karya, sutradara film sekaligus pembesar Teater Populer—tempat di mana kakak Eros, Slamet Rahardjo, menimba ilmu drama. Perkenalan tersebut membikin Eros, yang dikenal blak-blakan, leluasa mengkritik lagu-lagu dalam film Teguh. Suatu waktu, kritik Eros membuat Teguh jengah. Ia pun berbalik menyerang Eros.

“Kalau elu ngerti, coba, deh, elu aja yang bikin ilustrasi musik film gua nanti. Gua pengen tau, tuh, hasilnya kaya apa,” tegas Teguh sebagaimana dikutip almarhum Denny Sakrie.

Eros seketika tertantang dan tanpa pikir panjang menerima tawaran Teguh. Pada 1975, Eros, bersama Barong’s Band, mulai menggarap soundtrack untuk Kawin Lari, yang dibintangi Slamet dan Christine Hakim. Dalam proses pengerjaannya, Eros begitu terobsesi dengan karya yang orisinil. Ia tak ingin lagu-lagunya—sekali lagi—terdengar kebarat-baratan.

Demi mewujudkan visinya, Eros memborong sejumlah kaset dari band-band pop terkenal saat itu seperti Koes Plus, Panbers, hingga D’Llyod. Kaset-kaset ini menjadi santapan wajib para personel Barong’s. Tak lupa, Eros turut mengajak Keenan dan Debby Nasution sebagai personel tambahan Barong’s. Album yang dinanti akhirnya selesai diproduksi. Eros berhasil menciptakan beberapa lagu untuk Kawin Lari, dari “Oh Wanita”, “Bisikku”, hingga “Stambul Jakarta”.

Ada yang bergaya pop, ada juga yang berwarna keroncong. Satu hal yang pasti: Eros berhasil mengangkat “sentuhan Indonesia.” Pencapaian Eros makin lengkap tatkala ia diganjar Piala Citra untuk “Penata Musik Terbaik” dalam Festival Film Indonesia 1976. Setahun berselang, Teguh kembali meminta Eros menggarap musik latar untuk film yang kelak jadi salah satu magnum opus-nya, Badai Pasti Berlalu. Eros menyetujui tawaran Teguh dan segera mencari nama-nama yang akan membantu dirinya menyelesaikan proses penggarapan album.

Selain disibukkan proyek Guruh Gipsy, ia juga baru saja memperoleh popularitas lewat lagu “Lilin-Lilin Kecil” yang digubah James F. Sundah untuk album Lomba Cipta Lagu Remaja 1977 besutan Radio Prambors. Dari Chrisye, Eros lantas dikenalkan dengan Yockie Suryoprayogo, kibordis-komposer-arranger jempolan yang saat itu punya banyak proyek musik. “Saya belum kenal benar meski saya sudah tahu, dia penyanyi lewat Barong’s Band,” cerita Yockie kepada Kompas (28/6/2009) mengenai pertemuannya dengan Eros.

Setelah keduanya sepakat, proses pengerjaan album dimulai. Di luar Eros, Chrisye, dan Yockie, nama-nama lain yang masuk proyek ini ialah Berlian Hutauruk, Fariz R.M, Keenan, dan Debby Nasution. Mereka bekerja di studio sewaan yang berada di bilangan Pluit, Jakarta Utara. Studio ini bernama Irama Mas dan dimiliki oleh In Chung. Oleh Yockie, studio Irama Mas disebutnya lebih mirip “kandang”. Mulanya, yang dikerjakan hanya lagu untuk ilustrasi film—yang berkesinambungan dan durasinya bertumpu pada gambar-gambar dari alur cerita film itu sendiri.

Hanya saja, antusiasme mereka sulit dibendung dan pada akhirnya lagu-lagu tersebut direkam sekalian dalam format kaset. Total, ada 13 lagu yang tercipta. Beberapa di antaranya yaitu “Angin Malam”, Khayalku”, “Cintaku”, “Badai Pasti Berlalu”, “Semusim”, “Pelangi”, hingga “Merepih Alam”. Keseluruhan materi diaransemen oleh Eros, Chrisye, dan Yockie.

Proses penggarapan album Badai Pasti Berlalu bukannya tanpa masalah. Masalah pertama yang muncul adalah pemilihan nama Berlian Hutauruk. Bagi Teguh, Berlian bukanlah vokalis yang tepat untuk membawakan lagu-lagu Badai Pasti Berlalu. Alasannya: karakter vokal Berlian yang dianggapnya kelewat sopran.

Sebagai gantinya, Teguh menyodorkan nama Anna Mathovani yang lebih “lembut,” seperti saat ia menyanyikan “Cinta Pertama” karya Idris Sardi. “Teguh Karya sangat keberatan ketika saya memperdengarkan contoh rekaman Berlian Hutauruk yang akan dipergunakan dalam soundtrack film Badai Pasti Berlalu. ‘Suara apaan ini? Kayak suara kuntilanak,’ begitu kata Teguh,” kenang Eros.

Namun, baik Eros dan Yockie tak setuju. Menurut mereka, suara Berlian punya chemistry yang pas dengan nuansa aransemen musik yang dibangun dalam Badai Pasti Berlalu. Ketegangan tak bisa dihindarkan sampai akhirnya, demi menyelesaikan beda pendapat, Eros memberi Teguh ultimatum. “Kalo enggak setuju dengan konsep musik saya ini, ya, batalin aja semuanya,” kata Eros.

Masalah pun bisa teratasi. Teguh melunak dan menerima pilihan Eros. Masalah berikutnya muncul saat album selesai dibikin: tidak ada produser yang bersedia mengedarkannya. Alasannya: musik yang diusung Eros-Chrisye-Yockie dianggap aneh untuk sekelas pop. Lalu, karena merasa iba, In Chung datang seraya mengulurkan bantuan. Ia bersedia menjual album Badai Pasti Berlalu di toko kasetnya di Glodok, yang saat itu terkenal sebagai distributor lagu-lagu dangdut dan klenengan.

Tak dinyana, setelah diedarkan secara perlahan, album Badai Pasti Berlalu disambut baik oleh pasar. Radio-radio banyak memutar “Merepih Alam”. Pencapaian tersebut di luar ekspektasi Eros dan konco-konconya. Pasalnya, sejak awal, mereka tak peduli andaikata albumnya laku keras. Semua, mengutip kata-kata Yockie, “dikerjakan sukarela, penuh kebersamaan, persahabatan, dan kekeluargaan.” Bahkan, tak jarang, ketiganya harus nombok.

Kendati sukses besar, masalah lagi-lagi muncul usai album didistribusikan secara luas. Kali ini soal hak cipta dan royalti. Beberapa dekade setelahnya, masalah itu berbuntut ke pengadilan, melibatkan Eros dan Berlian. Dalam penggarapan Badai Pasti Berlalu, masing-masing personel tidak menerima royalti, melainkan sistem bayar putus. Ketika pekerjaan mereka selesai dan sudah menerima bayaran, tak ada lagi honor lanjutan dari royalti. Di kalangan musisi 1970-an, hal tersebut adalah praktik yang lazim.

Tonggak Pop Ada beberapa alasan mengapa album Badai Pasti Berlu disebut-sebut sebagai tonggak musik pop Tanah Air. Ketika album ini dilepas ke pasaran, industri musik pop digenangi lagu-lagu dengan tendensi komersial—dalam arti bahwa perkara kualitas pikir belakangan. Di tengah gejolak semacam itu, Badai Pasti Berlalu lahir sebagai antitesis.

Album ini menolak tunduk pada pakem “album pop biasa.” Album Badai Pasti Berlalu adalah album yang, menyitir kata-kata Yockie, lahir oleh “semangat dan greget yang jauh dari naluri industrial.” Jika tak percaya, Anda bisa simak sejak album ini dibuka dengan track “Pelangi” hingga ditutup lewat “Merpati Putih”. Komposisi musik yang disusun Yockie sangat berkelas.

Sesekali instrumentasi yang ia cipta memancarkan aura gloomy, kadang pula memantulkan kegelapan yang nihil harapan, sonder buaian. Progresi akornya pun tak bisa ditebak: Yockie dapat seenak jidat memasukkan warna baroque, chamber, dan, yang paling dahsyat, orkestrasi klasik abad 17 seperti yang dimainkan Bach. Musik Yockie yang katarsis ini makin terdengar paripurna—dan bernyawa—dengan kehadiran vokal Berlian yang tinggi menggelegar. Suara Berlian memberikan semacam ruh tersendiri di beberapa lagu Badai Pasti Berlalu. Ia membikin lirik-lirik ciptaan Eros—yang romantis namun tak terjebak pada pola mendayu-dayu—menjadi lebih hidup serta menyentuh sukma pendengarnya.

Album Badai Pasti Berlalu adalah salah satu jejak kolaborasi antara Yockie, Eros, dan Chrisye. Ketiganya punya riwayat panjang dalam dunia pop Tanah Air. Mereka setidaknya sudah bekerjasama dalam sembilan album.

Sumber berita :   Tirto dot id

Continue Reading
Beri Komentar

Berita

Lady Gaga dan Sterling K Brown Masuk Daftar Anggota Oscar

Diterbitkan

pada

By

Lady Gaga dan Sterling K Brown Masuk Daftar Anggota Oscar

FaktualMusik – Penyanyi Lady Gaga serta pemain film Sterling K Brown dan Claire Foy menjadi bagian dalam daftar anggota baru the Academy of Motion Pictures Arts and Science yang menyeleggarakan penghargaan Oscar setiap tahunnya.

Dilansir dari The Guardian, Rabu (3/7/2019) daftar the Academy tahun ini terdiri dari 842 nama tokoh dari industri hibutan yang akan membantu dan memberikan penilaian dalam pemilihan pemenang Oscar.

Sebanyak 50% dari jumlah tersebut merupakan tokoh perempuan dan 29% diantaranya ada tokoh dengan kulit berwarna. Hal ini merupakan langkah positif sebab the Academy telah menggandakan jumlah keterlibatan berbagai pihak yang lebih beragam.

Tokoh-tokoh tersebut berasal dari seluruh dunia yang terdiri dari 59 negara, diantaranya seperti Jami Bell, Tom Holland, Archie Panjabi, Lennie James, Damian Lewis, Winston Duke, Elisabeth Moss, Gemma Chan, dan masih banyak lagi.

Daftar itu bakal menampilkan 21 pemenang Oscar dengan jumlah 82 nominasi. Adapun, keanggotaan total the Academy saat ini telah mencakup lebih dari 10.000 orang.

The Academy sendiri pada beberapa tahun lalu mendapat kritis keras dengan tagar #OscarsSoWhite ketika tren nominasi aktor dan sutradara didominasi oleh para tokoh berkulit putih. Selanjutnya, presiden the Academy Cheryl Boone Issacs mengumumkan inisiatif dan komitmennya untuk keanekaragaman anggotanya.

Hal tersebut terlihat pada gelaran Oscar tahun ini. Dalam ajang tersebut, Rami Malek menjadi aktor pertama berdarah Arab yang memenangkan nominasi aktor terbaik, Ruth E Carter menjadi orang kulit hitam pertama yang memenangkan desain kostum terbaik.

Ada juga Mahershala Ali yang menjadi aktor kulit hitam kedua yang memenangkan beberapa nominasi Oscar dan Hannah Baechler menjadi orang kulit hitam pertama yang memenangkan desain produksi terbaik.

Continue Reading

Berita

‘Ikan Asin’ Bikin Galih Ginanjar Diperiksa Polisi Seharian

Diterbitkan

pada

By

‘Ikan Asin’ Bikin Galih Ginanjar Diperiksa Polisi Seharian

FaktualMusik – Kuasa hukum aktor Galih Ginanjar, Rihat Hutabarat, tidak mau berandai-andai kliennya menjadi tersangka dalam kasus pencemaran nama baik yang dilaporkan oleh aktris Fairuz A Rafiq.

“Saya pikir kita bicara hukum ini tidak pakai misal-misalnya. Kalau nanti apa adanya kita lihat kondisi, kita pelajari, apa langkah yang harus kita lakukan,” ujar Rihat di Polda Metro Jaya, Sabtu (6/7/2019) dini hari.

Rihat enggan berkomentar soal langkah yang akan diambil jika status Galih naik menjadi tersangka. Dia menekankan bahwa penetapan status sebagai tersangka adalah ranah penyidik.

“Bukan ranah lawyer menjawab ini. Ini adalah kapasitas penyidik, jadi saya pikir ini tidak perlu dijawab,” kata Rihat.

Saat ini, Galih berstatus sebagai saksi terlapor. Rihat menegaskan bahwa kliennya akan bersifat kooperatif dan bersedia membantu pengusutan terhadap kasus tersebut. Hal senada juga disampaikan Galih. Dia mengatakan akan mengikuti segala proses yang berlangsung pada saat ini.

“Sebagai warga negara yang baik memenuhi panggilan terhadap penyidik atau kepolisian saya jalani. Tidak ada masalah, karena itu panggilan dari institusi, dan memang harus dilakukan. Kalau enggak dilakukan baru saya bersalah di situ,” ujar Galih.

Galih menjawab sebanyak 46 pertanyaan penyidik setelah menjalani pemeriksaan selama 13 jam di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya.

Galih datang ke Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (5/7/2019) sekitar pukul 10:50 WIB, dan selesai menjalani pemeriksaan Sabtu (6/7/2019) sekitar pukul 00.00 WIB.

Aktor Galih Ginanjar menjawab sebanyak 46 pertanyaan penyidik setelah menjalani pemeriksaan selama 13 jam di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya.

“Sebanyak 46 pertanyaan, namun mohon maaf kami tidak etis untuk membuka secara detail isi dari pertanyaan tersebut,” ujar kuasa hukum Galih, Rihat Hutabarat, yang mendampingi Galih di Polda Metro Jaya, Sabtu (6/7/29019) dini hari.

Rihat mengatakan bahwa secara umum, Galih dimintai keterangan perihal proses pembuatan video, proses sepanjang durasi video dan setelah beredar dan viral video Youtube tersebut.

Galih datang ke Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (5/7/2019) sekitar pukul 10:50 WIB, dan selesai menjalani pemeriksaan Sabtu sekitar pukul 00.00 WIB.
Galih menjadi saksi dalam kasus pencemaran nama baik menggunakan kata-kata “ikan asin” yang juga melibatkan pasangan vlogger Rey Utami dan Pablo Benua. Sementara itu, usai pemeriksaan, Galih mengaku diperlakukan sangat baik dan merasa nyaman selama menjalani pemeriksaan.

“Memberikan kesempatan saya untuk makan, sholat, mengingatkan saya salat, terus juga saya tidak pernah merasa kehausan, minum cukup banyak, terus diberi kesempatan ke kamar kecil, itu saya sangat senang sekali. Dan, saya di sini diperiksa merasa sangat nyaman,” ujar Galih.

Dia juga mengaku tidak mengalami tekanan saat pemeriksaan berlangsung.
“Kalau lelah wajar,” tambah dia.

Penyidik memanggil Galih atas laporan dari Fairuz A Rafiq setelah muncul konten video Galih saat diwawancara Rey Utami di media sosial di mana Galih menyamakan Fairuz dengan ikan asin.

Laporan Fairuz tersebut tertuang dalam laporan bernomor LP/3914/VII/2019/PMJ/Dit.Reskrimsus. Terlapor, dalam hal ini Galih Ginanjar, Rey Utami, dan Pablo Benua, dilaporkan atas tuduhan pasal 27 ayat (1) juncto pasal 45 ayat (1) atau pasal 27 ayat (3) juncto pasal 45 ayat (1) UU Nomor 11/2008

Sumber Berita : Bisnis dot com

Continue Reading

Berita

Anggun C Sasmi Raup Rp 3,06 Miliar di Konser Amal Gemilang

Diterbitkan

pada

By

Anggun C Sasmi Raup Rp 3,06 Miliar di Konser Amal Gemilang

FaktualMusik – Penyanyi Anggun C Sasmi menggelar konser “Amal Gemilang 30 Tahun bersama Anggun C Sasmi” di Tenis Indoor, Senayan, Jumat (5/7/2019) malam.

Pertunjukan tersebut sekaligus menandai 30 tahun perjalanan karier Anggun di industri musik.Perempuan 45 tahun ini membuka konser lewat No Promises tepat pukul 20.30 WIB. Selanjutnya dia juga menjelaskan bahwa seluruh penghasilan tiket konser sepenuhnya buat amal. Istri Christian Kretschmar ini bilang uangnya akan dialokasikan untuk pembangunan sekolah di Palu, Donggala, hingga Lombok.

Konser itu berhasil mengumpulkan donasi Rp3 miliar guna membangun fasilitas pendidikan di berbagai wilayah Indonesia yang terdampak bencana.

Konser yang menghadirkan sekira 20 lagu itu dibuka dengan monolog Maudy Ayunda. Sang pelantun “Perahu Kertas” berbicara soal bencana alam di Indonesia, mulai daritsunami di Aceh hingga Palu dan Donggala.Maudy mengungkapkan bahwa dari semua peristiwa yang terjadi, membuat banyak anak-anak di Indonesia yang terputus mimpinya karena hancurnya gedung sekolah tempat mereka menimba ilmu.

Dia pun bersyukur karena masih banyak orang-orang yang peduli dengan masalah pendidikan anak di Indonesia, di antaranya adalah para penonton konser yang rela membeli tiket pertunjukan. Sebab 100 persen hasil penjualan akan disumbangkan untuk membantu pendidikan anak-anak korban bencana.

“Terima kasih sudah mewujudkan mimpi anak-anak Indonesia,” ujar Maudy.

Setelah Maudy, giliran Yura Yunita yang hadir di panggung P&G. Dia membawakan lagu “Harus Bahagia”, “Buka Hati”, “Cinta dan Rahasia”, dan “Merakit”. Yang paling ditunggu akhirnya hadir, Anggun langsung menyanyikan “No Promises” dan “Undress Me”. “Sumpah merinding sampai ke betis. Apa kabar teman-teman, senang enggak sih ketemu lagi? Biasanya kalau konser bilang terima kasih di akhir acara, tapi karena ini konser istimewa saya mau terima kasihnya sekarang.

Karena 100 persen penjualan tiket akan disumbangkan untuk membangun fasilitas-fasilitas sekolah di daerah,” kata Anggun. Anggun kemudian melantunkan “Snow on the Sahara”, yang menurutnya lagu tersebut mendatangkan banyak keberuntungan. Sebab dari sana, dia bisa keliling dunia dan namanya semakin diakui di kancah musik internasional.

Konser ini memberikan kejutan dengan kehadiran Rossa di panggung. Keduanya berkolaborasi menyanyikan “The Good is Back”. Selagi menunggu Anggun yang berganti busana, Rossa mengambil alih panggung dengan membawakan “Still Reminds Me” milik Anggun.

Setelah berganti busana karya dari desainer Mety Choa, Anggun mengajak penonton bernostalgia dengan membawakan “Yang Kutunggu”, “Bayang-Bayang Ilusi” dan “Mimpi”. Lalu, pada lagu “Takut”, Anggun kembali memberikan kejutan dengan menghadirkan Iwa K.

Siapa yang menyangka musik rock yang dibawakan Anggun berpadu dengan rap terdengar sangat menarik dan begitu menyenangkan.
“Sudah capek belum?,” tanya Anggun yang melihat antusiasme penonton tak kunjung reda.

Lagu yang paling ditunggu pun menutup konser ini yakni “Tua-Tua Keladi”, semua penonton langsung berdiri dan ikut menyanyikannya. Anggun dan penonton saling bertukar energi hingga menjadikannya lebih bersemangat. Dalam pertunjukan ini, Anggun kurang lebih membawakan 20 lagu dan di akhir acara juga dibacakan jumlah donasi yang akan disumbangkan ke 100 sekolah untuk membangun fasilitas pendidikan yang mencapai lebih dari Rp3 miliar.

Sumber Berita : Bisnis dot com
Continue Reading

Trending